Saksi PKS Bacakan Surat Pemecatan Yusuf Supendi

14 12 2011

Sidang lanjutan perkara gugatan Yusuf Supendi (YS) kepada pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (13/12)  mendengarkan keterangan dua orang saksi dari PKS. Saksi pertama adalah Muhammad Syauqi,  Sekretaris Dewan Syariah Pusat (DSP) periode 2004-2006, dan Iman Nugraha, Sekretaris Badan Penegak Disiplin Organisasi (BPDO).

Di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Subiantoro, Syauqi membacakan surat keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPS) PKS tentang pemberhentian YS dari keanggotaan PKS.  Menurut Syauqi, dalam surat bertanggal 29 Oktober 2009 yang ditandatangani oleh Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq dan Anis Matta selaku Sekretaris Jenderal  PKS, alasan pemberhentian YS ada tiga. Pertama, sebagai anggota partai YS telah melakukan pelanggaran di bidang keuangan, yakni mengabaikan kewajiban kepada partai sebagaimana diatur dalam Peraturan Partai tentang Keuangan Nomor 005/D/SKEP/DPP-PKS/1427 tentang infaq wajib anggota Dewan, Pejabat Tinggi, dan pejabat lainnya yang berasal dari PKS.

Kedua, YS tidak melakukan pemeliharaan citra partai dan pimpinan partai sebagaimana mestinya sebagai anggota partai. Dan ketiga, yang bersangkutan tidak mengindahkan surat teguran yang dikeluarkan oleh BPDO. BPDO sendiri sudah mengeluarkan dua kali surat peringatan untuk YS masing-masing No. 01/D/PRT/BPDO-PKS/1428 tertanggal 07 Juni 2007 dan No. 03/D/PRT/BPDO-PKS/1429 tertanggal 27 Oktober 2008.  

Pengacara PKS Zainuddin Paru menyatakan, keterangan saksi Syauqi menjawab persoalan yang selama ini ditanyakan oleh pihak penggugat bahwa pemecatan YS tidak ada suratnya.

Dalam kesempatan tersebut Syauqi juga menjelaskan mengenai proses pemberhentian YS. Proses dimulai ketika Majelis Syuro PKS mengeluarkan surat  No. 01/MS-VII/1426 tertanggal 26 Mei 2005. Pertimbangan Majelis Syuro PKS mengeluarkan surat tersebut adalah yang bersangkutan terbukti melakukan pelanggaran syar’i dan amanah maaliyah (amanah pengelolaan keuangan). Atas dasar pertimbangan itu Majelis Syuro kemudian memutuskan; pertama, mewajibkan YS mengembalikan dana aitam (anak yatim) selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2005. Kedua, mengembalikan segala tanggungan maaliyah (keuangan) selambat-lambatnya tanggal 26 Agustus 2005.

Ketiga, memerintahkan kepada YS untuk menunaikan infaq wajib anggota dewan sebagaimana SK DPP No. 24/SKEP/DPP-PKS/IV/1425. Keempat membayar denda sebesar Rp. 3.000.000 kepada Dewan Syariah Pusat selambat-lambatnya tanggal 26 Agustus 2005.

Kelima, menjatuhkan skorsing kepada Yusuf Supendi dari kegiatan partai selama tiga bulan. Dan selama masa skorsing yang bersangkutan wajib meminta nasehat kepada Ketua DSP periode 2005-2010.

Saksi kedua adalah Iman Nugraha, sekretaris BPDO. Selain menjelaskan soal proses pemberhentian YS, Iman juga memaparkan fitnah-fitnah yang disebarkan oleh YS, baik melalui buku putih maupun pesan singkat melalui ponsel (sms). Di antaranya, Iman mengungkapkan ihwal pernyataan YS yang menyebutkan Ketua Majelis Syuro PKS menyimpang dari putusan Majelis Syuro yang merekomendasikan dukungan kepada pasangan Amin Rais dan Siswono Yudohusodo pada  Pilpres 2004. “Tidak ada rekomendasi lain dari Majelis Syuro selain dukungan pada Amin Rais dan Siswono,” kata Iman.

Fitnah lainnya adalah terkait apa yang disebut oleh YS sebagai ancaman kepada dirinya dari Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Menurut Iman, kalau dibaca lengkap isi sms pimpinan PKS adalah sebuah nasehat. Namun yang disebarkan YS isinya dipenggal sehingga maknanya berbeda.

Iman pun membacakan transkrip sms dimaksud. “Selama ini ikhwah yg marah pd antum dan ingin merespon secara fisik dan hukum selalu kami tahan, ihtiromanli fadllikum ‘alaina …. Sekarang sulit menahannya karena antum sdh melangkah terlalu jauh!! Kalau boleh ana kasih saran, baiknya antum mulai mengosongkan rumah…khawatir ada yg tdk dapat menahan diri”   

Namun yang disebarluaskan, lanjut Iman, hanya bagian akhirnya saja, ‘…kalau boleh ana kasih saran, baiknya antum mulai mengosongkan rumah …khawatir ada yg tdk dapat menahan diri’, sehingga maknanya berbeda

//

Advertisements




Muharram Bersama Umat

10 12 2011


Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image





Buka Puasa Bersama Presiden PKS

11 08 2011

DPW PKS Sumsel pada hari Selasa 2 Ramadhan 1432 H lalu mengadakan temu kader sekaligus buka puasa bersama presiden PKS, Ustadz Lutfi Hasan Ishaaq. Pada kesempatan itu, Ustadz Lutfi menyampaikan taujih mengenai Ramadhan dan target Pemilu 2014. Kader-kader PKS baik ikhwan maupun akhwat memenuhi Aula DPRD Provinsi Sumsel, tempat diselenggarakannya acara tersebut. Bahkan tidak sedikit yang tidak kebagian tempat. Berikut ini dokumentasi pertemuan tersebut. Semoga Allah memberkahi.





Program Kerja DPC Kemuning Semester I (Juli – Des 2011)

8 08 2011





Panduan Ansyithah Ramadhan 1432 H

15 07 2011

Latar Belakang

Ramadhan adalah momentum yang sangat baik untuk penguatan karakter kader dan keluarganya, konsolidasi kader dengan masyarakat untuk membentuk iklim agamis (tadayun sya’biy) serta rekrutmen ditengah masyarakat.

Aktivitas penguatan karakter kader bisa dilakukan dengan melipatgandakan interaksi kader dan keluarganya dengan al-Quran, puasa, qiyam, dan ibadah lainnya.

Selengkapnya, klik di sini

Agenda Ansyitoh DPC Kemuning, Klik Disini 





Bekerja Karena Allah Untuk Rakyat

13 07 2011

Slogan saatnya bekerja untuk rakyat mengingatkan kembali untuk lebih banyak memberikan manfaat untuk orang lain. Tidak perlu menunggu program kerja tersusun atau instruksi dari atasan. Tetapi sudah menjadi semangat untuk terus bekerja dan banyak bekerja. Tentunya bukan sembarang bekerja, karena terkadang energi yang kita keluarkan untuk bekerja hanya memberikan manfaat sedikit untuk orang lain.

Sedikit petunjuk mengenai cara bekerja yang dituliskan oleh Hasan Al Bana dalam bukunya Risalah Pergerakan, semoga mengingatkan kembali dengan makna sesungguhnya bekerja karena Allah untuk Rakyat..

Hasan Albana, menuliskan :

Yang saya maksud dengan amal (aktivitas) adalah bahwa ia merupakan buah dari ilmu dan keikhlasan.

“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang ghailb dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,”‘ (At-Taubah: 105)

Adapun tingkatan amal yang dituntut dari seorang yang tulus adalah:

  1. Perbaikan diri sendiri, sehingga ia menjadi orang yang kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, luas wawasannya, mampu mencari penghidupan, selamat aqidahnya, benar ibadahnya, pejuang bagi dirinya sendiri, penuh perhatian akan waktunya, rapi urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. .
  2. Pembentukan keluarga muslim, yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.
  3. Bimbingan masyarakat, yakni dengan menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan munkar, mendukung perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah islamiyah dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus-menerus. Itu semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiapakh sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jamaah sebagai institusi yang dinamis.
  4. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa. asing -non-Islam- baik secara politik, ekonomi, maupun moral.
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah, sehingga menjadi pemerintah  yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai pelayan umat dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka.
  6. Usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan umat. Hal demikian itu dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya,  sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang di impi-impikan bersama.
  7. Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri.
    “Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah belaka.” (Al-Baqarah: 193)
    “Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.” (At-Taubah:
    32)

Mudah-mudahan kita menjadi barisan terdepan yang bisa terus bekerja untuk rakyat. Bukan karena pemilu, bukan karena popularitas, bukan karena citra, tapi karena ALLAH, sedangkan efek samping berupa kemenangan pemilu, baiknya citra, dan popularitas yang tinggi biarlah ALLAH yang mengatur semua.

Hamasah…..

)|(





Membangun Kecerdasan Politik

14 06 2011

Berbicara masalah politik, maka sebenarnya kita sedang berbicara dengan sesuatu hal yang diidentikkan dengan kekuasaan. Memang, walaupun para ahli banyak yang memberikan definisi tentang politik dari berbagai sudut pandangnya, namun sudah menjadi rahasia umum bahwa politik adalah hal-hal yang berkenaan dengan kekuasaan. Berkaitan dengan hal ini, bahwa politik identik dengan kekuasaan. Maka apakah asumsi dasar yang membuat kita harus membangun kecerdasan politik?,

Pertama, mungkin kita sering mendengar ungkapan “pendorong mobil mogok” distempelkan pada umat Islam di nusantara ini. Dimana pada saat menjelang pemilu saja, maka umat didekati dan dirangkul oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk melanggengkan atau merebut kekuasaan. Tetapi, setelah mendapatkan apa yang diinginkan, yang terjadi adalah umat ditinggalkan bahkan dicampakkan. Hal ini terus saja terjadi, tanpa umat bisa berbuat apa-apa, selain menyesali apa yang telah terjadi. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia membuktikan hal ini.

Kedua, kita mungkin sudah terlalu gerah dengan perilaku amoral yang ditunjukkan oleh sebagian elite penguasa kita. Dimana kekuasaan yang sejatinya adalah sebuah amanah social, yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat/rakyat yang dipimpinnya. Namun, pada hari ini, kekuasaan itu telah berubah menjadi sebuah kalkulasi untung-rugi dalam hal materi. Korupsi, kolusi, dan nepotisme telah menjadi penyakit kronis yang menggerogoti bangsa ini.

Tidak cukuplah kolom ini kiranya untuk menjelaskan asumsi dasar lainnya mengapa kita memerlukan kecerdasan politik. Namun demikian, dua asumsi diatas, setidaknya telah mewakili alasan mengapa kita perlu membangun kecerdasan politik. Tentu kita tidak ingin selalu menjadi pendorong mobil mogok. Dan kita tentu juga tidak ingin dengan keluguan dan kekonyolan, menyerahkan amanah kekuasaan ini kepada orang-orang yang menjadikannya sebagai sarana memperkaya diri sendiri. Oleh karena itu, membangun kecerdasan politik adalah sebuah keniscayaan. Wallahu a’lam bish-showab.

Adhi Al Banna

Sekretaris II DPC PKS Kemuning